Kamis, 03 Februari 2011

Imam Nawawi


Nama lengkapnya adalah Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Ia dilahirkan di Nawa, desa kecil yang berada di daerah Hauran, Syria, pada pertengahan Bulan Muharram tahun 631 H.
Imam Nawawi saat berumur 19 tahun diajak bapaknya ke Damaskus, lalu menetap di Madrasah ar-Rawahiyyah untuk menuntut ilmu. Dalam waktu empat bulan setengah, ia sudah hafal kitabat-Tanbih (kitab fiqih). Lima bulan setengah setelahnya dia hafal seperempat kitab al-Muhadzdzab.
Setelah itu, Imam Nawawi bersama bapaknya pergi melaksanakan ibadah haji. Saat meninggalkan desa Nawa, ia terserang penyakit demam sampai ia berada di Arafah. Dalam kesempatan haji ini, ia bermukim di Madinah  selama kurang lebih satu bulan setengah.
Dalam hari-harinya, Imam Nawawi membuat jadwal untuk memperdalam berbagai cabang ilmu di hadapan guru-gurunya. Ia membaginya menjadi dua belas jam pelajaran untuk dua belas cabang ilmu sebagai berikut:
1. Dua jam pelajaran untuk mempelajari kitab al-Wasith.
2. Satu jam pelajaran untuk mempelajari kitab al-Muhadzdzab.
3. Satu jam pelajaran untuk mempelajari kitab al-Jam’u bain ash-Shahihain.
4. Satu jam pelajaran untuk mempelajari kitab Shahih Muslim.
5. Satu jam pelajaran untuk mempelajari kitab al-Luma’ karya Ibnu Dhubai.
6. Satu jam pelajaran untuk mempelajari kitab Ishlah al-Manthiq.
7. Satu jam pelajaran untuk mempelajari ilmu tashrif.
8. Satu jam pelajaran untuk mempelajari ilmu Ushul al-Fiqh.
9. Satu jam pelajaran untuk mempelajari para perawi hadis (Asma` ar-Rijal).
10. Satu jam pelajaran untuk mempelajari ilmu Ushuliddin. 
11. Satu jam pelajaran untuk mempelajari ilmu kedokteran.
Namun untuk yang terakhir ini ia tidak jadi mempelarinya. Ia berkata, “Suatu saat terpikir olehku untuk mempelajari ilmu kedokteran, karenanya aku membeli buku al-Qanun fi ath-Thib (karya Ibnu Sina). Namun, ketika aku mempelajarinya, hatiku menjadi gelap. Berhari-hari aku tidak mampu memahami ilmu. Setelah itu, aku tersadarkan diri dan memutuskan untuk menjual buku tersebut sehingga menjadi teranglah hatiku.”
Guru-guru Imam Nawawi
A. Dalam bidang hadits
1. Al-Khatib Imaduddin Abdul Karim yang terkenal dengan Ibnu al-Haristani.
2. Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdul Muhsin al-Anshari.
3. Al-Hafizh Zain Khalid bin Yusuf bin Sa’ad bin Hasan bin Mufarraj.
4. Ibnu Burhan al-Adl.
5. Ibrahim bin Isa al-Muradi, dan guru-guru yang lain.
B. Dalam bidang fiqih.
1. Kamaluddin Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Utsman al-Magrabi.
2. Mufti Syam, Sallar bin al-Hasan bin Umar
3. Abu Muhammad bin Ibrahim al-Fazari
C. Dalam bidang ushul.
1. Kamaluddin Umar bin Bandar bin Umar at-Taflisi.
D. Dalam bidang bahasa
1. Ahmad bin Salim al-Mishri.
2. Muhammad bin Abdullan bin Malik ath-Tha`i al-Jiba`i.
Murid-murid Imam Nawawi
Imam Nawawi mempunyai banyak murid yang menjadi ulama. Di antara mereka adalah:

1. Ali bin Ibrahim bin Dawud al-Aththar.
2. Abul Hajjaj Yusuf bin Zakki Abdurrahman bin Yusuf al-Muzzi al-Qudha’i.
3. Muhammad bin Abi Bakar bin Ibrahahim  al-Qadhi.
4. Qhadi Sulaiman bin Hilal bin Syabal.
5. Salim bin Abdurrahman bin Abdullah, dan murid-murid yang lain.
Karya-karya Imam Nawawi
  1. Raudhah ath-Thalibin, ringkasan asy-Syarh al-Kabir karya Imam Rafi’i. Kitab Raudhah ath-Thalibin ini disusun oleh Imam Nawawi selama tiga tahun (666-669 H)
  2. Syarah Shahih Muslim yang ia beri nama al-Minhaj.
  3. Syarah al-Muhadzdzab yang ia beri nama al-Majmu’.
  4. Minhaj ath-Thalibin, ringkasan kitab al-Muharrar karya Imam Rafi’i.
  5. Tahdzib al-Asma` wa al-Lughat.
  6. 6. Riyadh ash-Shalihin.
  7. 7. Al-Adzkar.
  8. 8. Nukat at-Tanbih.
  9. 9. Al-Idhah fi Manasik al-Hajj.
  10. 10. At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur`an.
  11. 11. Tuhfah ath-Thalib an-Nabih.
  12. At-Tanqih, syarah al-Wasith, namun penulisan kitab ini hanya sampai bab syarat-syarat shalat.
  13. 13. Nukat ‘ala al-Wasith.
  14. At-Tahqiq. Kitab ini membahas hanya sampai masalah shalat musafir.
  15. Muhimmat al-Ahkam. Kitab ini membahas hanya sampai bersuci badan dan pakaian.
  16. 16. Syarh al-Bukhari.
  17. 17. Al-‘Umdah fi Tashhih at-Tanbih.
  18. 18. At-Tahrir fi Lughat at-Tanbih.
  19. 19. Nukat al-Muhadzdzab.
  20. Al-Muntakhab, syarah at-Tadznib karya Imam Rafi’i.
  21. Daqa’iq ar-Raudhah, yang pembahasannya hanya sampai pada masalah adzan.
  22. 22. Thabaqat asy-Syafi’iyah.
  23. 23. Mukhtashar at-Turmudzi.
  24. 24. Qismah al-Qana’ah.
  25. 25. Mukhatashar Ta`lif ad-Darimi fi al-Mutahayyirah.
  26. 26. Mukhtashar Tashnif Abi Syamah fi al-Basmalah.
  27. 27. Manaqib asy-Syafi’i.
  28. 28. At-Taqrib fi ‘Ilm al-Hadits.
  29. 29. Al-Khulashah fi al-Hadits.
  30. 30. Mukhtashar Mubhamat al-Khatib.
  31. 31. Al-`Imla` ‘ala Hadits Innama al-A’mal bi an-Niyyat.
  32. Syarh Sunan Abi Dawud. Kitab ini disusun oleh Imam Nawawi, namun baru sedikit yang ditulisnya.
  33. Bustan al-Arifin. kitab ini belum sampai ia sempurnakan.
  34. 34. Ru`us al-Masa`il.
  35. 35. Al-Ushul wa adh-Dhawabith.
  36. Mukhatashar at-Tanbih, namun baru satu lembar yang ia tulis.
  37. 37. Al-Masa`il al-Mantsurah.
  38. Al-Arba’in beserta syarah lafalnya.
Di antara karya-karya di atas yang sangat populer dan sampai sekarang masih dibaca oleh para ulama maupun orang-orang yang ingin memperdalam ilmu agama adalah kitab al-Majmu’, syarah kitab al-Muhadzdzab karya asy-Syairazi. Belum sempat menyelesaikan syarah tersebut, ia telah meninggal dunia sehingga diteruskan oleh Imam Subki dan al-Muthi’i. Sampai sekarang kitab tersebut berjumlah 23 Juz.
Kitab ini membicarakan masalah fiqih. Meskipun ia bermadzhab Syafi’i, dalam kitab ini ia membahas fiqih tidak hanya dari madzhab Syafi’i, tetapi dari berbagai madzhab. Ia membandingkan antara satu madzhab dengan madzhab lain melaui dalil-dalil yang dipakai. Maka pantas kalau kitab ini dikategorikan sebagai kitab Perbandingan Fiqih Islam.
Sebenarnya, tidak hanya kitab al-Majmu’ yang pupuler, masih banyak kitab-kitabnya yang sampai saat ini dibaca banyak orang, termasuk di pondok pesantren di Indonesia seperti kitab Minhaj at-Thalibin (tentang fiqih), Riyadh ash-Shalihin (tentang nasehat-nasehat), al-‘Arba’in (kumpulan empat puluh hadis), Syarah Shahih Muslim, Raudhah at-Thalibin, dan lain-lain.
Sebab-sebab Kepandaiannya
Ustadz Ahmad Abdul Aziz Qasim mengatakan, “Ada baiknya kita menjelaskan secara rinci pembentukan kepribadian yang besar ini. Setelah mempelajari biografinya secara keseluruhan, aku melihat bahwa faktor-faktor yang membentuk kepribadian itu terbagi dalam dua macam, antara lain:
Pertama; Faktor-faktor yang biasa dilakukan para pencari ilmu, hanya saja pelaksanaannya yang berbeda antara satu murid dengan murid yang lain seperti halnya perbedaan tujuan yang mereka inginkanFaktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Melakukan perjalanan dalam mencari ilmu.
b. Keberadaannya di Madrasah Ar-Rawahiyah.
c. Bersungguh-sungguh dalam belajar.
d. Banyak belajar dan mendengar.
e. Banyak menghafal dan menelaah.
f. Belajar dari guru-guru besar dan mendapat perhatian dari mereka.
g. Tersedianya kitab-kitab secara lengkap.
h. Sering mengajar.
Kedua; Faktor-faktor yang tidak biasa, yaitu faktor bakat yang diberikan Allah kepada hambanya yang dikehendaki-Nya seperti yang telah difirmankan, “Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Baqarah: 269) Namun, pemberian hikmah disyaratkan dengan takwa dan takut kepada-Nya. Allah berfirman, “Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu.” (Al-Baqarah: 282)
Ustadz Ahmad Abdul Qasim kemudian menjelaskan perincian faktor-faktor di atas, namun kami tidak mengutipnya secara sempurna karena sangat panjang dan memang kami hanya ingin yang ringkas saja.
Termasuk kutipan yang indah adalah permintaan maaf Al-Hafizh Ibnu Subki ketika diminta menyempurnakan kitab Al-Majmu’. Ia mengatakan sebagai berikut:
“Bisa saja karena kemampuanku yang kurang aku berbuat salah dan zhalim ketika menyarahi kitabnya. Bagaimana aku melakukan seperti yang telah ia lakukan, dia telah mendapatkan pertolongan serta takdir telah memihaknya sehingga pertolongan dan takdir tersebut mendekatkan apa yang jauh darinya. Tidak diragukan lagi bahwa untuk menghasilkan karya besar membutuhkan, setelah mempunyai keahlian, tiga perkara:
Pertama; Hati yang tenang dan waktu yang banyak. Dan Imam Nawawi mempunyai hati yang tenang dan waktu yang banyak, ia tidak tersibukkan dengan kerja mencari rizki dan mengurusi keluarga.
Kedua; Terkumpulnya kitab-kitab yang digunakan untuk mempelajari dan menelaah pendapat para ulama. Dan Imam Nawawi mendapatkan kitab-kitab yang dia inginkan karena banyak tersedia dan mudah didapatkan secara mudah di daerahnya.
Ketiga; Niat yang baik, wira’i, zuhud dan amal-amal saleh yang memancarkan cahaya-cahayanya. Dan Imam Nawawi telah melakukan hal-hal ini secara sempurna. Barangsiapa yang terkumpul padanya tiga perkara tersebut maka ia akan menyamai Imam Nawawi atau paling tidak mendekatinya.”
Kemudian Subki melakukan penyempurnaan kitab Al-Majmu’ dengan harapan dapat barakah dari Imam Nawawi. Namun, ia tidak sampai merampungkannya sehingga penyempuraannya diteruskan oleh Al-Muthi’i.
Di antara hal yang menunjukkan kebenaran penjelasan Imam Subki tentang kelengkapan kitab Imam Nawawi adalah kondisi kamar Imam Nawawi. Kamar Imam Nawawi di asrama Madrasah Ar-Rawahiyah di Damaskus penuh dengan kitab-kitab sehingga saat ada  tamu yang masuk dia harus mengambil sebagian kitab-kitab untuk ditumpukkan pada sebagian yang lain agar tamu dapat duduk. Tentu kitab-kitab ini tidak untuk sekadar koleksi atau hiasan, tetapi untuk dikaji isi-isinya.
Keberanian Imam Nawawi Untuk Menegakkan Kebenaran
Peristiwa yang menunjukkan keberanian Imam Nawawi dalam membela kebenaran, menyuruh melakukan perbuatan yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar adalah ketika raja Zhahir Baibras ingin memerangi pasukan Tartar di Syam. Raja ini meminfa fatwa kepada para ulama tentang diperbolehkannya mengambil harta rakyat untuk digunakan bekal melawan pasukan Tartar. Maka para ahli fiqih  Syam menulis kesepakatan yang memperbolehkan hal itu. Zhahir bertanya, “Masih ada seseorang yang belum menyetujui kebijakan itu?” Seseorang menjawabnya, “Ya, Syaikh Muhyiddin An-Nawawi.”
Sultan Zhahir Baibras meminta Imam Nawawi agar ia datang kepadanya. Imam Nawawi memenuhi permintaan tersebut. Sultan Zhahir berkata, “Tulislah kesepaktaan bersama para ahli fiqih !” Namun, Imam Nawawi tidak mau menuruti perintah tersebut. Sultan Zhahir Baibras mengatakan, “Apa sebab kamu tidak mau memberikan fatwa yang membolehkan seperti fatwa ahli fiqih yang lain?”
An-Nawawi menjawab, “Aku mengetahui bahwasanya kamu dulunya menjadi budak Bandaqar dan kamu tidak mempunyai harta. Setelah itu Allah memberikan kenikmatan kepadamu dan menjadikanmu sebagai raja. Aku telah mendengar bahwa kamu mempunyai seribu budak, setiap budaknya mempunyai simpanan emas, kamu mempunyai dua ratus budak perempuan dan setiap budak perempuan tersebut mempunyai perhiasan. Apabila kamu nafkahkan semua hartamu itu dan budak-budakmu masih tetap kamu miliki, maka aku akan memberikan fatwa kepadamu tentang bolehnya mengambil harta rakyat!”
Mendengar jawaban Imam Nawawi ini, Sultan Zhahir Baibras menjadi marah, lalu berkata kepadanya, “Keluarlah dari negeriku (Damaskus)!”  Imam Nawawi megatakan, “Aku turuti dan taati perintahmu.” Lalu Imam Nawawi keluar menuju Nawa.
Namun, para ahli fiqih mengatakan kepada sultan Zhahir, “Dia adalah salah satu ulama besar dan orang saleh kami dan termasuk orang yang dipercaya dan diikuti. Maka kembalikanlah dia ke Damaskus.” Lalu Imam Nawawi ditawari kembali ke Damaskus, namun ia menolak tawaran tersebut dan mengatakan, “Aku tidak akan masuk ke situ, selama Zhahir masih ada di dalamnya.” Setelah satu bulan dari peristiwa tersebut, Imam Nawawi meninggal dunia.”
Demikianlah biografi singkat Imam Nawawi yang menggunakan waktu siang malamnya untuk belajar dan menulis. Tidak sia-sia usaha yang dilakukannya, karena menulis adalah kerja keabadian. Siapa yang menulis dia akan terus hidup di tengah-tengah generasi manusia yang terus berganti. Dan memang seperti itulah yang kita rasakan, Imam Nawawi sampai sekarang masih hidup di tengah-tengah kita seperti halnya ulama-ulama yang lain. Semoga Allah memberikan ampunan dan pahala surga kepada para ulama, khususnya Imam Nawawi yang telah menjadikan dirinya sebagai pelayan ilmu dengan belajar dan menulis. Hal ini dilakukannya meskipun merelakan dirinya untuk tidak menikah sampai wafatnya. Atau karena memang ia masyghul dengan ilmu sehingga tidak sempat untuk menikah sebagaimana Imam Ibnu Taimiyah. Hanya Allah yang tahu.
Imam Nawawi meninggal dunia pada malam rabu tanggal 24 bulan Rajab tahun 676 H. Ia dimakamkan di Nawa, tempat kelahirannya.

Rabu, 02 Februari 2011

Sayyidah Nafisah, Sufi, Alim Dan Guru Imam Syafie


Sayyidah Nafisah ialah salah satu keturunan Rasulullah s.a.w.. Beliau puteri Imam Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin Imam Hasan bin Imam Ali r.a.. Beliau lahir di Makkah, pada 11 Rabiulawal 145H, hidup dan besar di Madinah.
Hijrah Ke Mesir
Demi keamanan dan ketenangan hidup Sayyidah Nafisah berhijrah ke Mesir bersama suaminya, Ishaq al-Mu'tasim bin Ja'far as-Siddiq, pada tahun 193H, setelah sebelumnya ziarah ke makam Nabi Ibrahim a.s.. Di Mesir beliau tinggal di rumah Ummi Hani’.
Sayyidah Nafisah menetap di Mesir selama 7 tahun. Penduduk Mesir sangat menyayanginya dan percaya akan karamahnya. Mereka selalu berduyun-duyun mendatanginya, berdesakan mendengarkan mauizahnya dan memohon doanya. Hal ini membuat suaminya berfikir untuk mengajaknya pindah ke tanah Hijaz, namun beliau menolak dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz kerana aku bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Beliau berkata kepadaku: "Janganlah kamu pergi dari Mesir kerana nanti Allah akan mewafatkanmu di sana (di Mesir).”
Peribadinya
Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari dia berpuasa sunat sedangkan pada malamnya dia bertahajjud menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Dia sungguh zuhud dengan kehidupannya. Hatinya langsung tidak terpaut dengan kehidupan dunia yang menipu daya. Jiwanya rindu dengan syurga Allah dan sangat takut dengan syurga Allah. Disamping itu Sayyidah Nafisah sangat taatkan suaminya. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayan suaminya dengan sebaik-baiknya.
Sayyidah Nafisah adalah seorang yang terkenal zuhud dan mengasihi manusia yang lain. Pernah satu ketika, beliau menerima wang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya. Beliau telah membahagikan wang tersebut kepada fakir miskin sebelum sempat memasuki rumahnya. Wang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak diambilnya untuk kepentingan dirinya. Semuanya disedekahkan kepada fakir dan miskin. Demikianlah dermawannya Sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin.
Keutamaannya
Sayyidah yang mulia ini sudah mendapatkan keutamaan sejak kecil lagi. Suatu ketika, demikian al-Hafiz Abu Muhammad dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bercerita: Al-Hasan, ayahanda Sayyidah Nafisah membawa Nafisah semasa kecil ke makam Rasulullah s.a.w.. Di sini sang ayah berkata : "Tuanku, Bagindaku Rasulullah, ini puteriku. Aku redha dengannya. Kemudian keduanya pulang. Di malam hari sang ayah bertemu Rasulullah bersabda: "Wahai Hasan Aku redha dengan puterimu Nafisah kerana keredhaanmu itu. Dan Allah SWT juga redha kerana redhaku itu.
Salah satu keutamaan Sayyidah Nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali.
Sayyidah Nafisah dan Imam Syafie
Sejarah sepakat mengatakan bahawa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau.
Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: "Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.”
Karamahnya
Sebelum menceritakan karamah-karamah Sayyidah yang mulia ini, perlu diketahui bahwa suami Sayyidah Nafisah (Ishaq bin al Mu'taman bin Ja'far ash Shadiq) pernah berkeinginan untuk memindah makam beliau ke pemakaman Baqi' (Madinah). Kemudian penduduk Mesir meminta suami Sayyidah Nafisah untuk mengurungkan keinginannya, kerana penduduk Mesir ingin mendapatkan berkah darinya. Akhirnya, pada suatu malam suami Sayyidah Nafisah bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Rasulullah bersabda, "Wahai Abu Ishaq, janganlah kamu menentang keinginan penduduk Mesir, karena Allah akan memberikan berkahNya kepada penduduk Mesir melalui Sayyidah Nafisah".
Di antara karamahnya ialah ketika pembantu Sayyidah Nafisah yang bernama Jauharah keluar rumah untuk membawakan air wudhu untuk beliau, pada waktu itu hujan deras sekali. Akan tetapi, tapak kaki Jauharah tidak basah dengan air hujan.
Di antara karamahnya juga ialah, ada sebuah keluarga Yahudi yang tinggal di dekat kediaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu berkata: "Nak, kamu mahu apa ? Kamu mahu ke kamar mandi ?. Si anak tiba-tiba berkata: "Aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu.” Setelah si ibu minta izin pada Sayyidah Nafisah dan beliau memperkenankannya, keduanya datang ke kediaman Sayyidah Nafisah. Si anak didudukkan di pinggir rumah. Ketika datang waktu solat Zuhur, Sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudhuk di dekat gadis kecil itu. Air wudhuk beliau mengalir ke tubuh anak tersebut. Seperti mendapatkan ilham anak itu mengusap anggota tubuhnya dengan air berkah tersebut. Dan seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti tidak pernah sakit sama sekali.
Kemudian si anak pulang dan mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh ibunya. Dengan hairan dia bertanya: "Kamu siapa Nak?” “Aku puterimu.” Sambil memeluk si ibu bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Si anak kemudian bercerita dan akhirnya keluarga itu semuanya masuk Islam.
Selain itu, pernah suatu ketika sungai Nil berhenti mengalir dan mengering. Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan memohon doanya. Beliau memberikan selendangnya agar dilempar ke sungai Nil. Mereka melakukannya. Dan seketika itu juga sungai Nil mengalir kembali dan melimpah.

Karamah-karamah beliau setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638H, beberapa pencuri menyelinap ke masjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan masjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940, seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di masjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari masjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya.

Wafatnya


Al-Sakhawi bercerita, "Ketika Sayyidah Nafisah merasakan ajalnya sudah dekat, beliau menulis surat wasiat untuk suaminya, dan menggali kubur beliau sendiri di rumahnya. Kubur yang digalinya itu ialah untuk beliau sentiasa mengingatkan akan kematian.Kemudian beliau turun ke liang kubur itu, memperbanyak solat dan mengkhatamkan al-Quran sebanyak 109 kali. Kalau tidak mampu berdiri, beliau solat dengan duduk, memperbanyak tasbih dan menangis. Ketika sudah sampai ajalnya dan beliau sampai pada ayat: “Bagi mereka (disediakan) tempat kedamaian (syurga) di sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal soleh yang selalu mereka kerjakan.” (Surah Al-An’am: 127), beliau pengsan kemudian dan menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Maha Kasih Abadi pada hari Jumaat, bulan Ramadhan 208H.

Sewaktu disembahyangkan sangat ramai orang yang menghadirinya. Sehingga kini maqamnya diziarahi oleh pengunjung dari seluruh pelusuk dunia. Demikian kehebatan yang Allah anugerahkan kepada Sayyidah Nafisah yang terkenal dengan kewarakan kepada Allah dan ketaatannya kepada suami. Semoga ianya menjadi contoh buat generasi wanita akhir zaman ini.

Akhir Kehidupan Imam al-Ghazali


Babak di saat terakhir kehidupan Imam al-Ghazali petikan dari dokumentari 'Al-Ghazali: Alchemist of Hapiness'.

Mengalihkan Tumpuan Pada Hadis Di Akhir Hayatnya

Didalam Tabaqat al-Subki menjelaskan bahawa Imam al-Ghazali melalui peringkat ketidak stabilan pada awalnya dan keadaan menjadi lebih jelas pada peringkat akhir hayatnya. Telah diriwayatkan bahawa beliau pada akhir hayatnya kembali kepada hadis-hadis sahih, dimana beliau sendiri mempelajari dan menghafal kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dikatakan pada penghujung penghidupannya, beliau telah mendengar Sahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad Abdul Hafsi, dan Sunan Abu Daud dari Qadhi Abu al-Fath al-Hakimi al-Thusi.

Diceritakan oleh murid beliau, Abdul Ghafur al-Farisi mengenai tahap akhir penghidupan gurunya: “Pada peringkat akhir beliau telah menunjukkan minat yang mendalam berkenaan hadis al-Mustafa (Hadis Nabi s.a.w.) dan mentelaah Sahih Bukhari dan Muslim.

Menurut Ibnu Katsir: “(Pada akhir hayat) dia telah pulang ke negerinya Tus dan tinggal disana, membentuk perhubungan, mengadakan rumah yang baik, menanam tanan-tanaman di kebun yang indah, membaca al-Quran dan menghafal hadis-hadis sahih. Dikatakan pada akhir hayatnya, beliau lebih cenderung kepada mendengar hadis-hadis Bukhari dan Muslim dan menghafalmnya.

Imam Az-Zahabi berkata: “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadis dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Sahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadis dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang puteri.”

Wafatnya Imam al-Ghazali

Kubur Imam al-Ghazali yang sebenar telah dijumpai oleh para arkeologi Khurasan pada tahun 1995 di Tus.

Adik Imam al-Ghazali, Ahmad menceritakan saat menjelang ajal abangnya: “Pada waktu subuh hari Isnin, abangku Abu Hamid mengambil wuduk lalu bersolat. Kemudian beliau berkata: “Bawakan kain kapanku,” lalu diambil dan dicium serta diletakkan di mata sambil berkata lagi: “Aku patuh dan taat untuk masuk kepada malaikat.” Kemudian al-Ghazali mengunjurkan kakinya dan menghadap ke kiblat dan wafat sebelum matahari terbit.”

Imam al-Ghazali wafat pada pagi Isnin, 14 Jamadilakhir 505H/19 Disember 1111M di Tus dengan kitab hadis atas dadanya. Jenazah beliau dikebumikan di makam al-Tabaran, bersebelahan dengan makam penyair besar yang terkenal, Firdausi.

Diceritakan bahawa Syeikh Abul Hasan al-Syadzili bermimpi bahawa dia melihat Nabi s.a.w. menunjukkan Imam al-Ghazali kepada Nabi Musa dan Isa, sambil bertanya kepada kedua mereka, “Adakah terdapat orang alim yang bijaksana dalam umat anda berdua?” Jawab keduanya tidak ada.

Petikan: 
Dari buku karya saya, Lembaran Hidup Ulama'

Syeikh Muhammad Adib al-Kallas, Sangat Murah Hati & Rendah Hati


Syeikh Muhammad Adib al-Kallas, Sangat Murah Hati & Rendah Hati

*Biografi ini didedikasikan buat syeikh yang telah wafat pada 21 Oktober lalu yang saya terjemahkan dari web bahasa Inggeris.

Syeikh Muhammad Adib al-Kallas ialah seorang ulama yang zuhud, ahli hukum terkenal dan sarjana berpendidikan tinggi.

Syeikh Adib dilahirkan pada tahun 1921 di pinggiran kota al-Qamariyah di Damsyik, Syria.

Awal Kehidupan

Ayahnya, Ahmad al-Kallas ialah salah seorang mujahid melawan penjajah Perancis dan syeikh Adib telah hafal al-Quran dan dipertahankan dengan sangat baik. Ayahnya juga ialah seorang ahli perniagaan. Ibunya, Durriya al-Kallas dikenal seorang yang dermawan, memiliki peribadi bagus dan mempunyai kesabaran. Ibunya meninggal sedangkan beliau masih kecil dan diasuh oleh saudara perempuannya. Sejak usia muda, beliau dikenal kerana kecerdasan dan cara beliau mengakui hak orang lain.

Guru-gurunya

Ayahnya mendaftarkan dirinya di sekolah-sekolah yang dikelola oleh para syeikh kerana beliau berharap bahawa anaknya akan menjauhkan dari sekolah-sekolah pemerintah selama zaman pendudukan Perancis. Beliau belajar di Madrasah al-Kamiliyyah dan di Madrasah al-Jauhariyah al-Safarjalaniyah. Pada kedua beliau mengenal dirinya dengan Syeikh Muhammad Salat Idul Safarjalni.

Beliau pindah ke al-Madrasah al-Aminiyyah mana Syeikh Kamil al-Baghal itu dan di mana beliau diajar oleh Syeikh Khair al-Jalad. Setelah itu beliau melanjutkan belajar di masjid dan di sekolah Syeikh Abdullah al-Munjalan setelah itu ia pindah ke Madrasah Al-Irshad wa al-Ta'lim.

Pada tahun 1931, ketika beliau berusia 10 tahun beliau sudah membaca dan mempelajari al-Arba'in al-Nawawiyah dan beberapa hal penting seperti Fiqh dasar Nur al-Idah di bawah Syeikh Solih Al-Farfur. Setelah itu ayahnya membuatnya bekerja sebagai seorang penjahit, pekerjaan beliau lakukan sampai larut malam. Akibatnya beliau tidak dapat melanjutkan pelajaran dengan Syeikh Shlih Al-Farfur.

Beliau bekerja bersama ayahnya di perniagaan keluarga tetapi beliau tepat waktu menghadiri pelajaran dan lingkaran-lingkaran belajar yang dilakukan oleh Syeikh al-Khatib Suhail yang berfokus pada pengiriman salam pada Nabi Muhammad saw dan pelajaran oleh Syeikh Hashim al-Khatib di mana ia membaca al-Quran.

Beliau akhirnya kembali ke pelajaran dari Syeikh Solih al-Farfur dan alasan untuk ini adalah bahawa beliau digunakan untuk membantu adiknya dalam memecahkan beberapa masalah matematik yang telah dipelajari di sekolah. Adik merasa terkejut dan beliaua biasa mengatakan bahawa beliau seharusnya untuk menemaninya ke masjid di mana beliau akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan kompleks lainnya. Syeikh Adib diterima dan kembali memperoleh pengetahuan.

Ketika Syeikh Salih melihatnya, beliau menyambutnya dengan ramah dan segera setelah beliau melihat anak itu kecerdasan dan memorinya mengarahkan beliau kepada seorang guru, 'Abd al-Halim faris yang mengajarinya beberapa tatabahasa Arab. Beliau datang dalam pemeriksaan pertama dan beliau menerima salinan al-Risdlat al-Qushayriyyah dari Syeikh Solih al-Farfur yang masih memiliki. Beliau menyelesaikan pelajaran tatabahasa, Ibnu 'Aqil dan al-Balaghah al-Wadihah.

Beliau belajar beberapa teks-teks di bawah Fiqih Syeikh Abd al-Razzaq al-Halabi dan beberapa buku penting dalam Tauhid di bawah Syeikh Solih al-Farfur bersama-sama dengan beberapa logik, warisan, tafsir, hadis, mustalah, tasauf, tajwid dan beberapa khulasat al-hisab oleh al-Āmili.

Syeikh Adib menghabiskan waktu setelah subuh terlibat dalam ibadah dan setelah itu beliay belajar Ḥashiyat Ibnu' Abidin dan di malam hari setelah Maghrib beliau terus belajar. Pada siang hari, beliau bekerja dengan ayahnya.

Syeikh Adib telah hafal Alfiyah Ibnu Malik dan bahkan menulis ringkasan pelajaran dan direvisi mereka selama hari, sementara beliau sedang bekerja. Beliau unggul dalam pelajarannya dan menjadi otoritas di bidangnya, tetapi beliau terus membantu ayahnya.

Itu adalah Kehendak Allah bahawa Syaikh menghabiskan waktu mempromosikan firman Allah dan jadi beliau adalah imam, guru dan pembicara publik di sejumlah masjid di Damsyik. Beliau lebih diperkuat oleh apa pun dia belajar lebih jauh belajar di bawah Mufti Syria, Syeikh Abu al-Yusr Abidin yang sering berkata kepadanya: "Kalau saja aku tahu anda sebelumnya." Dia mengatakan hal ini setelah mengamati pengetahuan dan kerendahan hati syeikh.

Syeikh Adib membaca beberapa surah dalam Al-Quran di bawah Fayiz Syeikh Mahmud al-Dair Atani. Syeikh Mahmud kadang-kadang bertanya kepadanya dan benar-benar terkesan dengan jawapan.

Beliau juga membaca dan belajar di bawah Syeikh Fauzi al-Munayir dan Syeikh Ahmad 'Abd al-Majid al-Dowmāni yang merupakan salah satu dari Syeikh Muhammad Salim al-Ḥalwānī murid. Beliau belajar di bawah Syeikh Abu al-Hasan al-Khabzu yang dikenal kerana retensi yang sangat baik dari al-Quran.

Ijazah-ijazahnya

Di antara para ulama yang beliau terima ijazah ialah daripada:

Syeikh Muhammad Solih Al-Farfur, Syeikh Abu al-Yusr Abidin, Syeikh Muhammad Said al-Burhani dan Syeikh Ahmad al-Siddiqi (dari Pakistan tapi beliau dibesarkan di Makkah).

Beliau bertukar Ijazah dengan Syeikh Abdul Razzaq al-Halabi dan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Selama perjalanan beliau ke Hijaz yang beliau gunakan untuk bertemu dengan para ulama dan mereka akan bertukar ijazah.

Sifat Peribadinya

Syeikh Adib sangat murah hati dan sangat rendah hati. Jika seseorang meminjam wang dari beliau, beliau tidak pernah meminta bahkan jika orang tidak membayar. Beliau ditampilkan sangat menghormati guru-gurunya dan orang-orang berilmu. Beliau memberikan preferensi untuk menanamkan ilmu di atas dan di atas kenyamanan peribadinya.

Pada siapa yang beruntung yang telah bertemu dengannya bersetuju bahawa beliau adalah salah satu yang paling luar biasa orang yang dapat bertemu. Meskipun memiliki segunung pengetahuan, beliau adalah orang yang dalam kerendahan hati dan murni, layanan tulus kepada orang lain. Bahkan beliau akan menyajikan teh buatannya untuk para tetamu dan memberi waktu untuk menghibur para murid dan bahkan yang paling dasar pertanyaan.

Beliau sangat khusus pada upaya mempertahankan ikatan keluarga dan beliau mencintai menunaikan haji dan umrah di mana beliau senang menghabiskan setidaknya satu bulan terlibat dalam ibadah dan pengabdian. Dia mencintai khulafa dan sisanya dari sahabat dan keluarga Rasulullah saw dan para auliya.

Pengetahuan, Mengajar dan Membimbing 

Syeikh Adib unggul dalam perdebatan seni dan kemampuan untuk memecah konstruktif argumen dan beliau memiliki kemampuan luar biasa untuk merespons secara efektif terhadap idea-idea menyimpang. Beliau juga seorang ahli dalam ilmu tauhid, warisan dan fiqh. Fiqh dan tauhid mungkin pelajaran yang paling disayangi olehnya. Syeikh Abu al-Yusr menggambarkan dirinya sebagai orang yang mirip dengan sahabat terbilang, Umar al-Khattab kerana beliau menentang tanpa takut akan kebatilan.

Beliau mengajar di Maahad al-Fath al-Islami dari waktu yang didirikan juga di Madrasah al-Aminiyyah dan beberapa sekolah menengah.

Beliau sangat rendah hati dengan murid-murid dan beliau tidak pernah berbalik siapa pun menjauh. Jika seorang murid mendekatinya dengan permintaan untuk belajar di bawahnya, beliau akan berkata: "Ini adalah waktu senggang, jadi pilih waktu yang cocok untuk anda, sehingga kami dapat membaca sesuatu." Beliau biasa mengatakan bahawa pengetahuan zakat adalah untuk menanamkan itu. Beliau selalu menanggapi positif terhadap sesuatu yang baik.

Murid-muridnya

Murid-muridnya yang banyak dan mereka termasuk orang-orang yang belajar di bawah beliau atau menghadiri pelajaran dan juga mereka yang belajar di Mahad Al-Fath Al-Islami. Ijazah beliau diberikan kepada mereka yang lulus dari Maahad Al-Fath dan beliau menyarankan para murid untuk mengikuti empat mazhab dan untuk melanjutkan dalam mengejar ilmu dan untuk memasukkan dia dalam Du'a.

Siapa pun yang membaca atau belajar di bawahnya, mencintainya dan siapa pun bertanya padanya, bahkan pernah menjadi teman dan siapa pun yang memasuki rumahnya mengenali kerendahan hatinya dan siapa pun yang berbicara dengannya mengetahui keadilan dan siapa pun yang melihatnya kagum mengamati dan cahaya.

Wafatnya

Beliau wafat pada 21 Oktober 2009 bersamaan 2 Zulkaedah 1430 di Damsyik, Syria. Umur beliau ialah 88 tahun, setelah menjalani kehidupan yang didedikasikan untuk pengetahuan, pengajaran dan pelayanan tanpa pamrih untuk para pencari pengetahuan.

Semoga Allah memberinya syurga tertinggi dalam kedekatannya dengan kekasih, Rasulullah saw dan yang paling agung, Ya Rabb!

Terjemahan daripada web bahasa Inggeris:
http://marifah.net/index.php?option=com_content&view=article&id=224:shaykh-muhammad-adib-al-kallas&catid=16:biographies&Itemid=46